Kamis, 05 Juni 2014

tidak berlebihan

Tidak Berlebihan

kata orang tua;
jangan berlebihan karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi hari esok

Selasa, 06 Mei 2014

Ayah tung tunge

Pada hari libur
Ayah menonton video terbang dengan wingsuit dr gadget. Rui main PSP. Mereka duduk bersebelahan.
Ayah: kalau ado di Padang, bang nio
Bunda: APo tu?
Ayah: ko ha
Rui: (tiba-tiba nyeletuk) ayah, dak bisa do. Ayah tungtunghe. Dak bisa iTu do. 
Ayah dan bunda ternganga.
Ayah: beko ayah diet bia kuruih
Rui: kalau Ayahnya nasinghe, baru bisa 

Hmmmmm

Senin, 05 Mei 2014

Lego Anak padusi ala Anak jantan

musim semi 2014, Kampus HUFS GLobal, KOrea

 Alhamdulillah, matahari bersinar dengan cerah,,,
Alhamdulillah, mereka mahasiswa yang baik

 Mungil nan indah selepas kering yang panjang
 alhamdulillah, belajar dari alam
 alhamdulillah, penglihatan yang indah
 alhamdulillah, teman yang baik
 Sara Torres--Paraguay
Alhamdulillah, amanah Illahi..

Musim Semi 2014 Flavianus Ruizhi Freddyanna



















Kamis, 01 Mei 2014

perempuan hebat

perempuan hebat tidak harus dari kalangan mereka yang merasa hidup sempurna
perempuan hebat juga bisa dari mereka yang sering dilingkari berbagai perasaan
perempuan yang hidup dalam berbagai warna silih berganti
seperti musim yang tidak pernah berhenti bertukar
seperti alam yang tidak pernah berhenti membuat lingkaran
seperti roda yang tak jenuh berputar melekatkan berbagai bekas dan jejak lalu meninggalkannya di jalan yang lain
seperti altar yang menjadi saksi berbagai kenangan

perempuan hebat itu setidaknya memberi pelajaran
seperti api dalam sekam, mungkin
menggunung dengan gundukan yang tampak mengemas
bara dalam tumpukan itu entah bagaimana memadamkannya
atau
seperti gunung es yang menyejukkan lara musim panas
memuncak dengan ketinggian yang putih membeku
aliran dalam gundukan itu entah bagaimana melaraskannya

perempuan hebat itu membawa kedamaian bagi orang yang damai
perempuan hebat itu membawa ilmu bagi orang yang ingin berilmu
perempuan hebat itu memberi insipirasi untuk terus bersyukur
perempuan hebat itu tampak kuat dan kokoh meski tulang punggungnya entah berkata apa
perempuan hebat itu membekas pada setiap langkah

Yongin, 1 Mai 2014, untuk Ibu Choi


Senin, 21 April 2014

cerita siang ini

cerita siang ini;

kami duduk di sofa depan tv
sofa ini berwarna coklat tanah
di tangan kami memegang sepiring nasi
dengan lauk cukup sederha
sosis ayam, telur mata sapi, dan saus cabe

kami mulai makan siang tanpa sayur

ketika hampir habis
kami berpikir
seperti apa kita tua nanti
jika kelak Tuhan hadirkan masa itu

lalu kami bergegas menuju tempat belanja
membeli bahan makanan yang bergizi
untuk makan malam dengan buah hati

Sabtu, 05 April 2014

PEMILU 2014

Hari ini, Pemilu pertama saya di luar negeri.
Tidak ada lagu "Pemilihan umum telah memanggil kita..."
tidak ada iklan partai politik di kampus yang terletak di perbukitan ini

tidak ada semarak pemilu

saya pikir, saya merasa damai dari hiruknya pemilu
tapi, tidak
ada media sosial
dan ada rasa yang cemas

seperti apa negara saya nanti?

polemik yang tidak selesai oleh kita saja

beberapa hari ini, beberapa polemik "terbaca" dengan sengaja atau tidak sengaja (?) dari media sosial.
ibarat memakan buah simalakama, kalau dibaca "hati memberontak", tidak dibaca "hati bertanya-tanya"

pertama, ada teman yang mengibaratkan evaluasi diri (tentu saja, evaluasi diri dari suatu lembaga.)sebagai salah satu tempat berbohong.  yang bersangkutan menyangkutkan dengan seorang sufi. bukankah seorang sufi mampu berpikir bijaksana. bagi saya, kesufian akan diuji di sana. menyampaikan apa yang telah diperbuat dengan bijaksana.

tapi, itu adalah pemikirannya. tentu, saya tidak boleh masuk di dalamnya. saya harus menghargai pemikirannya dengan cara saya yaitu hanya menatap tulisan itu. lalu, sejenak berpikir. begitulah cara saya saat ini di tengah hebatnya orang berdiskusi dan berorasi seperti yang dulu pernah saya coba lalui ketika masa itu. dan masa itu telah mengantarkan saya menjadi pribadi saat ini. ingin kritis berbicara tapi itu bukan lagi saya. terlalu banyak yang ingin keluar darii pikiran ini, tapi saya bukan Sang Maha Tahu atau Sang Maha Bijak--dan tidak mau menjadi Sang Maha

kedua, sebuah berita terbaca oleh saya. berita sehubungan dengan pesta demokrasi. seorang politi-kus berkampanye di suatu Kota nun di Pulau Sulawesi. Katanya, kalau partainya menang, dia akan mem-PNS-kan Imam Masjid. Saya sesak. bagi saya, Imam di Masjid adalah orang yang dituakan secara segala hal pada suatu kaum ketika akan berjamaah. mereka tidak mampu disetarakan dengan pegawai negeri, dan pikiran saya menjadi liar sampai ke peneceramah agama yang memasang tarif, hingga berbagai hal sampai agama dipolitikkan dan politik diagamakan. dan kembali ke negara saya saat ini, negara saya bukan negara Islam. kalau demikian, pendeta, bhiksu atau lainnya tentu menjadi PNS pula. Apa hakiki mereka?

saya menyesal membaca berita itu. tapi saya harus membacanya. karena saya mampu membaca semenjak kelas 1 SD. kalau mendengar kata teman yang berkutat dengan diskusi lalu menulis dengan keras, tentu jawabannya adalah tulis!. tapi, ilmu politik saya hanya sebatas pemahaman saya saja. kembali, saya kembali ke pribadi saat ini.

semoga blog ini mampu menampung pikiran saya tentang dunia polemik saya secara damai.

Kamis, 20 Maret 2014

Ketika Menua

Ketika semakin menua
ketika itulah kulit-kulitku akan mulai keriput
mataku mulai rabun
tubuhku membungkuk
"itu cerita masa lalu, kini aku bisa menahan kekeriputan, kerabunan, dan kebungkukkan itu.
jangan cemas, dunia memang tua tapi tidak menuakan diriku seperti itu"

ketika semakin menua
ketika itulah aku semakin lupa
ingatanku berkurang
bahkan untuk membuka kunci layar perangkat pintarku
"itu cerita lalu, mataku bisa memindai perangkat pintarku
jangan kuatir, dunia memang kejam tapi tidak menuakan diriku seperti itu"

ketika semakin menua
ketika itulah aku semakin terlambat
kecepatanku mengejar moda transportasi tidak seperi dulu lagi
bahkan untuk mengambil kartu kredit dari mesinnya
"itu cerita lalu, semua dipersiapkan juga untuk kaum menua seperti aku
jangan ragu, dunia memang sibuk tapi tidak menuakan diriku seperti itu"

ketika semakin menua
ketika itulah aku semakin dekat dengan-Nya
hidupku semakin berkurang
bahkan untuk menunggu festival yang akan datang
"itulah cerita abadi, semua akan kembali kepada-Nya"

Korea, 21 Maret 2014