Senin, 21 April 2014

cerita siang ini

cerita siang ini;

kami duduk di sofa depan tv
sofa ini berwarna coklat tanah
di tangan kami memegang sepiring nasi
dengan lauk cukup sederha
sosis ayam, telur mata sapi, dan saus cabe

kami mulai makan siang tanpa sayur

ketika hampir habis
kami berpikir
seperti apa kita tua nanti
jika kelak Tuhan hadirkan masa itu

lalu kami bergegas menuju tempat belanja
membeli bahan makanan yang bergizi
untuk makan malam dengan buah hati

Sabtu, 05 April 2014

PEMILU 2014

Hari ini, Pemilu pertama saya di luar negeri.
Tidak ada lagu "Pemilihan umum telah memanggil kita..."
tidak ada iklan partai politik di kampus yang terletak di perbukitan ini

tidak ada semarak pemilu

saya pikir, saya merasa damai dari hiruknya pemilu
tapi, tidak
ada media sosial
dan ada rasa yang cemas

seperti apa negara saya nanti?

polemik yang tidak selesai oleh kita saja

beberapa hari ini, beberapa polemik "terbaca" dengan sengaja atau tidak sengaja (?) dari media sosial.
ibarat memakan buah simalakama, kalau dibaca "hati memberontak", tidak dibaca "hati bertanya-tanya"

pertama, ada teman yang mengibaratkan evaluasi diri (tentu saja, evaluasi diri dari suatu lembaga.)sebagai salah satu tempat berbohong.  yang bersangkutan menyangkutkan dengan seorang sufi. bukankah seorang sufi mampu berpikir bijaksana. bagi saya, kesufian akan diuji di sana. menyampaikan apa yang telah diperbuat dengan bijaksana.

tapi, itu adalah pemikirannya. tentu, saya tidak boleh masuk di dalamnya. saya harus menghargai pemikirannya dengan cara saya yaitu hanya menatap tulisan itu. lalu, sejenak berpikir. begitulah cara saya saat ini di tengah hebatnya orang berdiskusi dan berorasi seperti yang dulu pernah saya coba lalui ketika masa itu. dan masa itu telah mengantarkan saya menjadi pribadi saat ini. ingin kritis berbicara tapi itu bukan lagi saya. terlalu banyak yang ingin keluar darii pikiran ini, tapi saya bukan Sang Maha Tahu atau Sang Maha Bijak--dan tidak mau menjadi Sang Maha

kedua, sebuah berita terbaca oleh saya. berita sehubungan dengan pesta demokrasi. seorang politi-kus berkampanye di suatu Kota nun di Pulau Sulawesi. Katanya, kalau partainya menang, dia akan mem-PNS-kan Imam Masjid. Saya sesak. bagi saya, Imam di Masjid adalah orang yang dituakan secara segala hal pada suatu kaum ketika akan berjamaah. mereka tidak mampu disetarakan dengan pegawai negeri, dan pikiran saya menjadi liar sampai ke peneceramah agama yang memasang tarif, hingga berbagai hal sampai agama dipolitikkan dan politik diagamakan. dan kembali ke negara saya saat ini, negara saya bukan negara Islam. kalau demikian, pendeta, bhiksu atau lainnya tentu menjadi PNS pula. Apa hakiki mereka?

saya menyesal membaca berita itu. tapi saya harus membacanya. karena saya mampu membaca semenjak kelas 1 SD. kalau mendengar kata teman yang berkutat dengan diskusi lalu menulis dengan keras, tentu jawabannya adalah tulis!. tapi, ilmu politik saya hanya sebatas pemahaman saya saja. kembali, saya kembali ke pribadi saat ini.

semoga blog ini mampu menampung pikiran saya tentang dunia polemik saya secara damai.